pada tanggal
REVIEW FILM
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
BAHAGIA
Senin, 4 Oktober 2021
Apa alasan aku menjadikan tema ini pembuka?
Mudah saja, karena setiap orang punya hati
yang mereka perjuangkan, bukan? Punya hati yang ingin bahagia.
Dulu sekali, aku selalu beranggapan
bahwa bahagia adalah bagaimana sikap orang lain ke kita, bagaimana cara mereka
menghargai kita dan apa saja yang kita dapat dari orang lain. Definisi bahagia
yang sangat sempit ternyata pernah menggantung dan aku yakini selama
bertahun-tahun. Alasannya sederhana, proses pendewasaan. Apa yang telah lama
diyakini bisa berubah 180 derajat atau bahkan semakin mantap seiring
berjalannya waktu.
Saat masih masa sekolah sekitar tahun
2003an ketas, pasti beberapa dari kita sering mendengar kalimat, “Lu baik, gua
lebih baik. Lu jahat, gua lebih jahat.” Mungkin ada yang pernah dengar atau bahkan
menerapkannya. Aku termasuk golongan yang menerapkan, maka dari itu temenku tidak
begitu banyak. Terhitung jari, hanya orang-orang tertentu yang aku perlakukan
baik (sebagaimana mereka memperlakukan aku).
Hal yang paling sering aku lakukan
adalah, menerima rasa bahagia, lalu mengembalikannya. Jadi, kalau orang lain
membuatku bahagia, aku juga semampuku akan membuat mereka bahagia. Begitu pula
sebaliknya, aku akan mengembalikan rasa sakit yang orang lain berikan (hal ini
masih aku lakukan sampai sekarang). Aku tak pernah memulai duluan,
membahagiakan duluan? Rasaya aneh. Aku saat kecil ya begini, egois. Aku hanya mau
memberi ketika aku diberi. Tenang, itu dulu. Sekarang aku sudah mulai belajar
untuk memulai lebih dulu, memulai pertemanan, senyum lebih dulu ketika
berpapasan, menyapa lebih dulu, menghubungi lebih dulu. Meskipun semua masih
terasa sulit, tapi lambat laun aku melakukannya.
Puncaknya aku tersadar ketika aku
menangis karena dikecewakan, orang yang biasanya memberi kebahagiaan, ternyata
lebih mudah untuk mematahkan. Mungkin karena mereka terlalu dekat dengan hati,
jadi lebih mudah tergapai juga hatiku untuk dipatahkan. Aku masih terus
menyalahkan orang itu dulu, selalu. Semua masalah yang ada setelah patah hatiku
pasti kukaitkan dengan orang itu. Tidak ada pembeda apakah masalah itu kecil
ataupun besar, semua itu salah orang itu.
Aku lalu bertanya, bagaimana sekarang?
Apakah ada yang akan membahagiakan aku lagi? Akankah aku dibahagiakan lagi? Terus
seperti itu bertahun-tahun sampai akhirnya aku menonton film Nanti Kita Akan Cerita Hari Ini. Singkat
cerita, Kale (Ardhito Pramono) mengatakan, “...bahagia itu tanggung jawab
masing-masing.”
Aku jadi terdiam karena kalimat super
singkat itu, kemudian berpikir. Jadi kebahagiaan itu tanggung jawab
masing-masing ya? Apakah selama ini aku salah dan terlalu egois karena minta
dibahagiakan?
Kalau menurut kalian bagaimana?
Apakah kebahagiaan pure karena diri
kalian sendiri? Karena kalian memilih untuk bahagia dalam keadaan apapun?
Apakah kebahagiaan pure karena sikap orang lain? Sesuatu yang kalian dapat dari dunia
termasuk orang-orang didalamnya?
Atau kombinasi keduanya?
Sharing yaa!! Sebagai anonim pun tidak
masalah.....
Komentar
Posting Komentar